Sabtu, 03 Oktober 2015

ketika cinta tak terucap

berteman dengan Andri, tahun lalu, ketika mereka pergi ke perjalanan wisata sekolah. Karin mulai menyadari kalau ia jatuh cinta sama Andri. Sebelum Perjalanan itu berakhir, Karin mengambil langkah untuk menyatakan cintanya pada Andri. Dan Andri pun mau menerimanya, mereka pun menjadi sepasang kekasih , tapi cara mereka saling mencintai sedikit berbeda . karin selalu berkonsentrasi pada diri Andri dan sangat mencintai pribadinya, tetapi disisi lain, Andri tak pernah menganggap Karin ada. Bagi Karin, Andri adalah satu-satunya pria yang ia cintai , tapi buat Andri, mungkin Karin sebagai pacar cadangan saja. "Andri, apakah kamu ingin pergi menonton film ?" Tanya Karin.

" Saya tidak bisa" jawab Andri

" Kenapa, apa kamu sibuk ?" Karin dengan perasaan kecewa.

"Tidak ... aku akan bertemu seorang teman" Jawab Andri. Andri selalu seperti itu . Andri sering bertemu gadis di depan mata Karin, seperti menganggap Karin tidak ada. Baginya, karin hanya pacar simpanannya saja. "Kata 'Cinta' hanya keluar dari mulutku . Sejak aku mengenalnya , aku tidak pernah mendengar dia mengatakan 'Aku Mencintaimu' terhadapku. Dia tidak pernah mengatakan apa-apa dari hari pertama kita pacaran. Setiap hari, dia hanya memberikan Aku sebuah boneka, setiap hari. Aku tidak tahu mengapa?" karin dengan penuh tanya dalam hatinya.Kemudian suatu hari ...

Karin : "emm.. Andri , aku.."

Andri : "Apa?"

Karin : "Aku mencintaimu."

Andri : (hanya memberikan sebuah boneka lalu pulang). Itulah bagaimana Andri mengabaikan Karin. tak ada sepatah katapun dan Andri hanya memberikan boneka itu. Kemudian ia pergi, seperti sedang menghindar. Karin menerima boneka dari Andri hampir setiap hari, hingga ruangan kamar Karin penuh dengan boneka pemberian Andri.


Lalu suatu hari datang, tanggal 15 ulang tahun Karin berusia 19 tahun . Ketika Karin bangun di pagi hari, Karin selalu membayangkan merayakan ulang tahunnya berdua bersama Andri ditaman penuh bunga-bunga. karin pun menunggu Andri untuk menelponnya. Tapi ... siang berlalu, malam berlalu. dan langit pun sudah gelap. Andri belum juga menelpon Karin, hingga Karin tertidur. Kemudian sekitar jam 2 pagi hari, tiba-tiba Andri menelepon Karin hingga terbangun. Dia menyuruh Karin untuk keluar rumah. Dan karin pun menyambutnya dengan suka cita, Karin terus membayangkan hal indah yang selalu dia bayangkan.

Karin : "Andri..?"

Andri : "Disini ... ambil ini "Sekali lagi , dia memberikan Karin sebuah boneka kecil.

Karin : "Apa ini?"

Andri : "Kemarin Aku lupa memberikannya sama kamu , jadi Aku memberikannya sekarang. Aku akan pulang sekarang, bye.."

Karin : "Tunggu, tunggu ! Apakah Kamu tahu hari apa ini?"

Andri : "Hari ini? Aku tidak tahu"
Karin merasa sangat sedih , Karin pikir Andri akan ingat hari ulang tahunnya. Andri pun berbalik dan pergi seperti tidak ada yang terjadi. Lalu Karin berteriak: "Tunggu ... !!"

Andri : "Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?"

Karin : "Katakan padaku , katakan padaku kau mencintaiku."

Andri : "Apa? !"

Karin : "Katakan!" (Karin sambil memeluk Andri dari belakang). berharap, Andri bisa mengatakan bahwa dia mencintai Karin. Tapi kenyataanya Andri hanya bicara dingin. "Aku tidak ingin mengatakan itu, jika kamu kecewa mendengarnya, silahkan mencari penggantiku" Lalu Andri pergi. mendengar itu Karin menangis dan terjatuh ke tanah. "mengapa andri tidak bisa mengatakan Cinta padaku, Bagaimana dia bisa? Aku merasa bahwa Mungkin dia bukan pria yang tepat untukku." tangis karin


Setelah hari itu, karin diam sendiri di rumah sambil menangis, hanya menangis. tetapi Andri tetap saja tak bisa mengatakan cinta terhadap Karin. Andri hanya terus memberikan boneka kecil setiap pagi dan meletakkannya di luar rumah Karin. Hingga boneka-boneka itu menumpuk di kamar Karin.

Setelah satu bulan berlalu, Karin mulai bersekolah lagi. Tapi apa yang dilihat karin sungguh menyakitkan, karin melihat Andri jalan dengan gadis lain, . Karin langsung berlari dan kembali ke rumah dan melihat boneka-boneka itu di kamarnya, sambil menangis karin berkata "Kenapa dia memberikan boneka-boneka ini kepadaku, Apa Boneka-boneka diberikan juga dengan gadis lain?" dalam kemarahannya Karin melempari boneka itu. Lalu tiba-tiba, telepon berdering, yang ternyata Andri. Andri menyuruh Karin untuk datang ke halte bus di luar rumah Karin. Karin mencoba menenangkan diri dan pergi ke halte bus. Karin terus berjanji dalam hati bahwa ia akan melupakan Andri, dan meminta putus. Lalu Andri datang ke hadapan Karin, sambil memegang sebuah boneka besar.



Andri : "Karin , Aku pikir Kamu marah, Tapi kamu benar-benar datang" (sambil menyodorkan boneka besar)

Karin : "Aku tidak membutuhkannya."

Andri : "kenapa?"

Lalu Karin mengambil boneka itu dari tangannya dan melemparnya di jalan.

Karin : "Aku tidak butuh boneka ini , aku tidak membutuhkannya lagi ! Aku tidak ingin melihat orang seperti kamu lagi!".

Tapi tidak seperti hari-hari lain , suara Andri sangat gemetaran. "Maafkan aku" Andri meminta maaf dengan suara kecil. Lalu Andri berusaha mengambil boneka itu di jalan.

Karin : "Kamu bodoh! Mengapa kamu mengambil boneka itu? !"

Tapi Andri mengabaikan Karin dan mengambil boneka itu . Lalu ..."Peeep.... Peeep...!!!" Dengan klakson keras, sebuah truk besar sedang menuju ke arah Andri.

"Andri ! Pergi ! Menjauh ! " Teriak Karin.

Tapi Andri tidak mendengarkan Karin, Andri berjongkok dan mengambil boneka itu . " Boom ! " Suara itu , begitu mengerikan . Itulah bagaimana Andri pergi meninggalkan karin. Itulah bagaimana Andri pergi tanpa membuka matanya untuk mengatakan satu kata cinta kepada Karin.

Setelah hari itu , Karin harus menjalani kehidupan dengan sendiri diselimuti kesedihan yang begitu mendalam Dan setelah menghabiskan dua bulan seperti orang gila, Karin mengambil salah satu boneka yang pernah diberikan Andri. "Hanya Boneka-boneka ini kenangan saya dengan kamu, Aku ingat hari-hari aku menghabiskan waktu bersama dia, ketika kita sedang jatuh cinta" racau karin seperti orang gila.

" Satu ... dua ... tiga ... " Karin mulai menghitung boneka." Empat ratus delapan puluh lima buah boneka " Itu semua berakhir dengan 485 boneka . Karin kemudian mulai menangis lagi, dengan boneka dalam pelukannya, karin memeluk erat-erat boneka itu, lalu tiba-tiba ... " Aku mencintaimu ~ , aku mencintaimu ~ " Karin terkejut, lalu menjatuhkan boneka itu,Lalu Karin mengambil bonekanya kembali dan menekan perutnya ." Aku mencintaimu ~ Aku mencintaimu ~ "

" Aku mencintaimu ~ "" Aku mencintaimu ~ "" Aku mencintaimu ~ " Kata-kata keluar dari boneka itu tanpa henti. Aku ... mencintaimu ... " Mengapa aku tidak menyadari kalau hatinya selalu di sampingku , melindungiku. Mengapa aku tidak menyadari bahwa dia mencintaiku sebanyak ini ?"

kemudian Karin mengambil boneka di bawah tempat tidur dan menekan perutnya, itu adalah boneka terakhir, salah satu yang jatuh di jalan, dengan noda darah di atasnya. dan Suara yang keluar dari boneka besar itu.

" Karin... Apakah kamu tahu apa hari ini ? Kita sudah saling mencintai selama 486 hari . Apakah kamu tahu apa yang 486 ? Aku tidak bisa mengatakan aku mencintaimu .. karena aku terlalu malu ... Jika kamu memaafkan Aku dan mengambil boneka ini , aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu ... setiap hari ... sampai aku mati ... Karin ... I love you ... "

Air mata datang mengalir keluar dari ke dua mata karin. "Kenapa? Kenapa? Aku bertanya Tuhan , mengapa saya baru mengetahui semua ini sekarang? Dia tidak bisa berada di sisiku , tapi dia mencintaiku sampai menit terakhir nya ..." Karin dengan penuh tangis

ayah aku merindukanmu


AYAH, AKU SANGAT MERINDUKANMU.
Karya Sindi E.

Sedih rasanya jika mengingat masa sedih ku, ketika Ayahku harus di bawa kerumah sakit. menahan rasa sakit yang ada dikepalanya. sekarang aku sudah naik kekelas 1 SMP. aku tidah menyangka, sudah 1 tahun lebih Ayah berada disana, terlebih jelasnya berada di sisi tuhan YME. aku sedikit menyesal tidak bisa menunjukkan yang terbaik untuknya. suka membantah printahnya, suka membohonginya, dan membentaknya jika dia tak menuruti permintaanku. jika diingat sekarang, aku sangat sedih sekali. aku juga belum berkata maaf padanya di masa terakhirnya.

- Febuari 22 2011
Aku terbangun dari tidurku. aku melihat ke jendela, lagit masih gelap. tiba-tiba terdengar suara dari luar. aku keluar dari kamarku ternyata Ayah, Ibu, Om dan budeh Supri sedang beres2. aku baru ingat kalau hari ini Ayah akan di bawa kerumah sakit. ayah ku mengidap penyakit kanker otak setadium 4 dan ingin segera di operasi. sebelum Ayah pergi menuju RS Polri, Ayah mencium pipi kanan, kiri dan dahi ku, lalu berpesan
"jangan nakal ya, dek" ucap ayah ku tersenyum. aku membalas senyumannya.
lalu Ayah, Ibu, Om dan budeh supri pergi menuju RS polri. dengan terpaksa aku harus dititipkan di rumah budhe Nani karena aku harus bersekolah.
- Maret 1 2011
Setelah seminggu aku dititipkan dirumah Budhe Nani. rencananya makam ini aku bersama Budhe Nani akan menjenguknya, diantar oleh Om ku. aku tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaan ayahku kini. Aku segera mandi dan bersiap-siap bersama Budhe Nani. Om ku telah tiba di depan rumah Budhe Nani. Aku dan Budhe Nani segera naik ke mobil menuju RS polri. dan di dalam mobil ternyata ada Rani, saudaraku. dia anak Om ku. ternyata dia juga ikut.
"kamu ikut, Ni?" tanyaku.
"iya. soalnya dirumah aku sendirian,Mbak" ucapnya. dia memanggil ku dengan sebutan "mbak" karena aku lebih tua darinya 4 tahun.
"lah? Ibu mu memang dimana?" tanya ku.
"Ibu kan udah ada di rumah sakit bareng Ibu mbak Sindi" ucapnya.
"ohh. yaudah kamu di rumah aja bareng hantu hahahaha" ledek ku membuat Rani mencubit pinggangku.
"ihh nakutin aja nihh" ucapnya kesal. aku hanya tertawa.

Sesampainya aku di RS Polri. aku, Rani dan Budhe Nani segera menuju ruang rawat Ayahku. sedangkan Om ku. ia menuju warung untuk merokok sejenak. aku berjalan menuju lift bersama Rani dan Budhe Nani, karena ruang rawat Ayahku ada di lantai 2. setelah di lantai 2, aku segera berjalan menuju kamar rawat Ayahku. aku membuka pintu kamar rawat Ayahku. ternyata Ayah ku sedang tertidur. Aku masuk kedalam kamarnya. aku berpelukan dengan Ibuku, aku sangat rindu padanya.
"Ibu, aku kangen banget ama Ibu. kapan Ibu pulang?" tanya ku menangis.
"iyah. nanti Ibu juga gatau kapan" ucap Ibuku sambil membelai rambut ku.
kata ibu. Ayah tidah mau makan, setiap makan Ayahku akan memuntahkannya, walau sesuap saja. kata suster Ayah ku harus makan karena besok Ayahku harus dioperasi. aku mencium keningnya. aku harus pulang.
"cepat sembuh ya, Yah. aku menyayangi mu" ucap ku. lalu segera pulang ke rumah Budhe Nani. bersama Rani, Budhe Nani dan Ibu Rani yang bisa aku panggil Mbak Rita. sebenarnya aku tidak mau pulang. aku mau disana, menunggu Ayah ku sampai besok, sampai hari dia akan di operasi. tapi aku harus sekolah besok, besok juga aku ada ulangan Matematika di sekolah. aku dan saudaraku bergegas pulang menuju rumah.

- Maret 3 2011.
1 hari setelah operasi. aku menjenguk ayahku bersama Budhe Nani yang diantar oleh Kakakku yang ke2, Afan. aku bergegas ke RS Polri bersama Budhe. sebenarnya Mbak putri (anak dari Budhe Nani) ingin ikut. tapi dia harus belajar karena ia harus menghadapi UAS, dia sudah kelas 3 SMA. walau berbeda 6 tahun dengan ku, tapi dia sangat akrab dengan ku. aku menanti sampainya menuju RS Polri.
"semoga saja Ayah baikan, Amin ya Allah" ucap ku dalam hati.

Sesampainya aku di RS Polri. aku menuju ke ruang ICU. karena setelah kemarin di operasi Ayah ku dirawat disana. Ibu berada di ruang tunggu ICU. aku bertanya pada ibu ku.
"Bu, aku mau liat dong. dimana Ayah di rawat sekalian ngobrol" ucap ku.
"jam besuknya udah abis dek. liat di jendela samping aja sana" suruh Ibu.
"yaudah" aku bersama Mas Afan, kakakku melihat lewat jendela.
"jendelanya tinggi, Mas" ucapku.
"yaudah lu naik ke pundak gua aja" ucap Mas Afan sambil merendahkan tubuhnya. aku agak takut, tapi aku sangat ingin melihat gimana Ayah. lalu aku menaiki pundaknya. Mas Afan mengangkat tubuhnya keatas.
"eh cepetan, Sin. udah ga kuat. badan lo berat amat si" ucap Mas Afan mengeluh.
"tunggu dong. bentar lagi ya" ucap ku sambil berpegangan di jendela. karena Mas Afan tidak kuat lagi, ia menjatuhkan tubuhnya.

BRUKKK!
"aduhh gimana sih lu, Mas?" tanya ku kesal sambil memegangi pergelangan kaki ku.
"gua ga kuat tau! badan lo berat banget!" ucap Mas Afan juga kesal sambil memegangi pantatnya. akhirnya aku hanya bisa menunggu esok untuk menjenguk lagi di ICU. karena hari ini aku menginap semalam.

- Maret 4 2011
Aku terbangun dari tidurku. aku segera mandi di kamar mandi umum bersama Rani. tiba-tiba suster datang membawa kan kabar kalau Ayahku drop. aku kaget, sangat kaget. lalu aku segera berjalan menuju ruang ICU bersama Budhe, Rani dan Mbak rita. dan benar! Ayah ku drop. mungkin karena semalam ada suara berteriak karena seorang pasien meninggal. aku menangis memeluk Mbak Rita.
"ayahh..." ucap ku menangis tersedu-sedu. baru saja aku ingin mengobrol, ternyata! aku mendengar kalau Ayahku drop.
"udah-udah. mendingan kamu doain Ayah Sindi. semoga cepat sembuh" ucap Mbak RIta menghiburku. Aku hanya mengangguk, lalu menghapus air mataku. kata dokter Ayah ku harus dioperasi lagi. keluarga ku setuju.

Ayah ku segera dibawa keruang Operasi. Ibuku menelpon saudara-saudaraku, untuk memberi tahukan kabar buruk ini. aku berjalan menuju Ayahku. disana ada Mas afan, berada di samping Ayah dan pade sartono (suami Budhe Nani) di sebelah Ayah juga. aku segera mendekat. berulang kali ayah ingin melepas selang oksigen yang di hidungnya dan infus yang berda di tangannya. tapi di jegah oleh ku, Mas Afan dan Pade Sartono.
"jangan, Yah" ucap ku mencegah. aku hanya bisa menangis. "Ayah, kenapa nasib seperti ini?" ucap ku dalam hati.

Operasi segera di mulai aku menunggu diluar. disana ada saudaraku, Yudha, Arin, dan Tegar. mereka mengajakku berkeliling, mungkin agar aku melupakan kesedihanku. setelah 6 jam berlalu. Ayahku segera keluar dari ruang operasi. aku mengiringnya bersama keluarga besarku dan beberapa perawat dan 1 dokter. Ayah ku dibawa ke ruang ICU lagi. aku hanya berdoa agar Ayahku baik-baik saja.
"ya Allah. jika engkau ingin mengambilnya. aku ikhlas. jika engkau ingin menyembuhkannya, sembuhkanlah ya Allah, Amin" doa ku untuk Tuhan YME. ketika malam aku bergegas pulang. karena besok aku harus masuk. semenjak Ayah sakit, aku jadi banyak membolos karena menjenguk Ayah.

- Maret 10 2011
Aku sering menghubungi ibu, menanyakan hal yang sama "apakah Ayah sudah sadar?" jawabannya tetap sama "belum, Dek".

Pagi ini budhe membangunkan ku untuk bergegas mandi dan sekolah.
"Sin, cepet bangun udah siang" ucap budhe.
"iya. itukan Mbak putri masih mandi" ucap ku mengeles.

Tiba-tiba HP budhe berdering.
"innalillahi" ucap budhe lalu mematikan HPnya. awalnya aku santai saja mungkin orang lain. tapi..
"Sin, Ayah meninggal" ucap budhe sambil menangis. aku terlonjak kaget, aku langsung terduduk di kasur. Mbak putri yang kaget tidak jadi mandi, dia segera memakai baju nya lagi. dan segera keluar.
"Apa?!?" ucap ku dan mbak putri berbarengan. Mbak putri menangis memelukku. awalnya aku belum mengeluarkan air mata. tapi tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja, semakin lama semakin menderas.
"AYAHHH!!!! huhuhu!! jangan tinggalin aku, Yah" ucap ku memeluk erat tubuh mbak putri. aku segera mandi dan bergegas ke sana. tapi mbak putri tidak ikut karena hari ini ia UAS. aku berjalan memasuki taksi bersama Budhe dan mbak Rina (anak kedua budhe sekaligus kakak mbak putri)

Sesampainya aku di sana aku menunggu Ambulance yang membawa Ayah ku datang. aku masuk menuju kamar ku. mengganti baju, menjadi baju muslim coklat. aku menghampiri kakakku, Faris (kakak pertama ku) aku makan bersamanya di lantai atas. lalu Mas Faris berpesan.
"nanti lo jangan nangis ya, Sin. kasian Ayah" ucap Mas Faris lirih. aku hanya mengangguk.

Mobil Ambulance Ayahku pun datang aku menghampirinya. masih dengan rasa tak menyangka. "apakah aku bermimpi? apakah aku bermimpi buruk hari ini? jika mimpi, sadarkan aku" ucap ku dalam hati lirih. Ibu menghampiriku, matanya tergenangi air, dia memeluk ku. Mas Afan juga memeluk ku. aku menangis, padahal aku tak memintanya. air mataku begitu saja mengalir. aku masuk kedalam ruang tamu. di sana berbaring Ayah ku di atas karpet. seperti tidur. tapi tidak seperti biasa, ia sudah di baluti oleh kain batik. aku dan saudara, warga dan lainnya membacakan surat Yasin untuk Ayahku. aku membaca sambil menangis, sampai-sampai buku Yasin yang kupegang basah perhalaman. tiba-tiba pundak ku tersentuh seseorang. ohhh dia adalah saudara ku juga Mbak budi (ibu dari yudha, Arin, Tegar dan Indi)
"Sindi yang sabar ya" ucapnya mengusap-usap pundak ku. aku hanya mengangguk. Ayahku segera dimandikan. lalu dibalut kain kafan dan segera di makamkan. hujan membasahi perjalanan ku dan keluarga besarku juga tetangga-tetangga ku. aku mengangkat jemariku, menatap langit. hujan jatuh di tanganku, perlahan makin banyak. wajah ku juga terbasahi air hujan. "Tuhan, semoga air hujan ini akan menghilangkan sedikit beban dalam hati ku. setelah memakamkan dan mendoakan Ayah ku. kami segera pulang kerumah. aku segera masuk kedalam, ternyata ada Mbak putri dan Yales (pacar Mbak Putri) dia mengucapkan bela sungkawa pada ku dan keluarga ku. aku berjalan mendekati Yudha.
"Yud, main benteng yuk" canda ku.
"yee" ucapnya pada ku. aku hanya tertawa, tawa yang ku paksakan.

- Juli 12 2012
Kini aku menerimanya apa adanya, ikhlas. apalagi aku di kelilingi keluarga, saudara dan sahabat yang siap menemaniku. yang pasti aku ingin membahagiakan Ibuku, harta terakhir yang kumiliki sekarang ini. aku juga sudah memasuki smp yang ku inginkan, tapi tak 1 sekolah dengan Yudha. semoga saja Ayah tersenyum melihatku disini :)

maaf dan terimakasih

Maaf dan Terimakasih - Cerpen Persahabatan Sedih

Karya Nita
 "Hmm," terllihat seorang perempuan menggeliat di atas ranjangnya. Ia merubah posisinya menjadi duduk. Ia menghela napas panjang dan memandang jendela besar di sebelah kiri ranjangnya. Gelap. Hanya ada bintang dan bulan yang menghiasi malam kelamnya. Terdengar suara air yang bersentuhan dengan tanah secara teratur. Melodi yang damai dan menenangkan. Ia melirik jam digital yang terdapat di sebelahnya. "Haah, aku bangun tengah malam lagi," gumamnya setelah melihat jam yang menunjukan pukul 02.36. Sudah menjadi kebiasaannya beberapa hari terakhir untuk bangun larut malam. Ia tidak mempermasalahkannya lagi dan mulai berjalan kearah jendela untuk duduk disana. Menyingkirkan tirainya dan membukanya. Memandang hujan yang turun dengan derasnya. Juga semilir angin yang menghantam wajahnya.

Ia memejamkan matanya, berusaha untuk menikmati keseluruhannya. Memori-memori itu terlintas dibenaknya lagi. Musik. Senyumannya. Kejadian yang dramatis dibawah hujan yang lebat. Dimana semua orang lebih memilih untuk berlindung daripada melawan dinginnya angin. Air mata yang menyatu dengan air hujan. Mengalir dan terjatuh di tanah. Janji yang terucap yang bahkan ia tak tahu bagaimana melaksanakannya.

akibat membantah ibu

Kisah Cinta Mengharukan Tentang seorang Ibu Dan Anaknya - Pada suatu subuh Saya hendak berangkat kerja. kalau bukan karena perintah atasan, sebenarnya Saya sangat malas untuk datang ke kantor di hari libur. dengan mata masih mengantuk, Saya mengendarai motor dengan agak pelan sambil menahan dinginnya angin subuh. namun, tiba-tiba ditengah perjalanan "Braaak"!!! Saya dikagetkan dengan suara benturan yang sangat keras yang membuat saya terkejut, ternyata tepat didepan Saya terjadi kecelakaan. terlihat ada tiga orang sudah terkapar, Saya hentikan motor lalu Saya pinggirkan di tepi jalan, dengan tergesea-gesa Saya dekati tiga orang itu, sebenarnya saya tidak sanggup melihat kondisi  ketiga orang tersebut, tapi karena jiwa kemanusiaan saya, akhirnya saya memberanikan diri.

Terlebih saat saya melihat keadaan seorang Gadis berumur sekitar 15 tahun, kepalanya berlumuran darah terbentur aspal sangat keras, begitu juga dengan seorang bapak diperkirakan berumur 35 tahun mengalami hal yang sama. namun ada seseorang anak lelaki yang saya perkirakan anak laki-laki tersebut yang telah memboncegi gadis tersebut. anak laki-laki tersebut masih tersadar duduk sambil merintih menahan kesakitan. saat itu keadaan sepi, mungkin karena keadaan yang masih sangat pagi diperkirkan semua kantor juga libur.

Tak tahan melihatnya cepat-cepat saya angkat gadis itu yg sudah terluka parah, entah karna apa saya langsung menolong gadis itu. mungkin karna gadis itu mirip dengan adik saya, jadi saya merasakan bagaimana kalo itu benar terjadi dengan adik saya. Dengan sekuat tenaga saya mengangkat gadis kecil itu, saya berteriak pada orang sekitar agar turut membantu, terutama untuk menolong seorang bapak yang sudah sekarat.

Dengan tertatih dan penuh darah di baju. saya coba menghentikan mobil yg sedang melaju. Namun 1, 2, dan 3 mobil menolak, tak sanggup melihat seorang anak gadis yang sedang sekarat dipangkuan saya. saya mencoba memberanikan diri saya ke tengah jalan raya dan memberhentikan sebuah mobil pick up. tak banyak bicara langsung saya naik ke mobil. Hendak ingin menikkan gadis ke mobil tiba-tiba terjadi sedikit cekcok
"ini ada apa!?" tanya supir dengan sedikit menggentak.
"tolong antarkan anak ini kerumah sakit terdekat pak" jawab saya tergesa.
"tidak bisa, saya sedang sibuk" jawab supir.
"bapak tidak melihat gadis ini dengan penuh darah dan sekarat. bapak masih punya hati kan!?" saya dengan sedikit nada kesal.

Supir itu pun terdiam setelah melihat kondisi gadis tersebut. Setelah mendapat sinyal persetujuan saya langsung menaikkan gadis itu ke mobil, lalu orang-orang yang telah datang untuk membantu pun ikut mengangkat pemuda dan bapak yang terluka parah tersebut naik ke mobil pick up itu. Setelah semua korban kecelakaan itu naik ke mobil, mobil itu pun jalan menuju rumah sakit terdekat. Tetapi saya tidak ikut ke rumah sakit dikarenakan saya harus melanjutkan perjalanan menuju kantor. Sebelum ke kantor sejenak saya melihat-lihat kondisi motor bekas kecelakaan tadi, ternyata kondisinya sangat parah dan Motor sudah tak terlihat bentuknya. Motor itu pun di simpan sementara di pom bensin yang dekat dengan kecelakaan. Setelah saya melihat tempat kejadian. Saya melanjutkan perjalanan ke kantor, untung saja saya punya baju cadangan untuk mengganti baju yang penuh darah.

Setelah jam pulang kantor kira-kira jam lima sore saya berniat ke pom bensin, selain untuk mengisi bensin, saya juga ingin melihat apakah motor bekas itu sudah diambil atau belum. Sampai di pom bensin saya melihat ada seorang bapak dan ibu yang ingin membawa motor bekas kecelakaan tersebut.
Saya dekati bapak dan ibu itu, dengan sedikit takut saya pun bertanya.
"maaf pak, bu. Motor ini kenapa pak, koq ringsek begini?" tanya saya pura-pura tidak tahu.
"ini motor anak saya yang tadi pagi kecelakaan" jawab bapak agak memelas.
"kalau boleh tahu anak bapak cewek apa laki-laki, trus bagaimana dengan kondisinya sekarang pak?" tanya saya penasaran.
''anak saya cewek dik, dia sudah meninggal karna benturan keras dikepalanya". jawab bapak dengan haru.
Mendengar jawaban dari bapak itu saya langsung terdiam, lemas, dan tidak berani bertanya. langsung lemes saya, tidak berani bertanya lagi.
Saat saya terdiam tiba-tiba ibu itu berbicara dengan sedikit isak tangis.
"padahal semalam ibu sudah melarangnya buat pergi, tapi anak ibu terus membantah untuk tetap pergi dengan teman laki-lakinya, padahal ibu tidak mengijinkan dia untuk pergi" kata ibu itu sambil menangis.
"berarti anak ibu itu semalaman bersama teman laki-lakinya itu tanpa izin orang tuanya" gumam dalam hati saya. naudzubillah ampuni dia Yaa Allah.

terakhirnya ibu itu bicara sendiri "ya Allah ikhlasin hamba, jangan sampai kekecewaan ini menyulitkan anakku disana. sayangi anakku ya Allah sesungguhnya hamba sangat menyanginya" doa ibu itu sambil nangis.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting buat saya bahwa larangan ibu sangatlah keramat, banyak akibat buruk yang akan kita alami jika kita tidak menuruti perintah ibu, dan kejadian ini juga bisa menjadi pelajaran buat para orang tua, agar lebih bisa mengontrol pergaulan anak gadisnya.

setelah itu saya pulang , takut terharu terlalu lama disitu. begitulah akhir pengalamanku, semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut. Jika Anda telah membaca Kisah nyata ini saya sarankan untuk membaca Cerita Sedih Penuh Air Mata Tentang Kakak. Terima kasih.


cerita sedih

Saya Mela seorang gadis kecil yang lahir di desa terpencil, pekerjaan setiap hari orang tuaku adalah dengan membajak sawah. Aku juga mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Ikhsan, dia seorang kakak yang berumur beda 3 tahun dariku. Ini kisah dan cerita tentang kakakku yang mungkin sedih dan mengharukan buat Aku.

Suatu hari Aku ingin membeli sepatu, karena sepatu yang lama sudah terlihat sobek. Jadi pada saat itu Aku mencuri uang di laci ayahku. Namun ternyata ayahku terlanjur mengetahuinya. Ayah pun menanyakan hal tersebut padaku juga kakak ikhsan "Siapa yang mencuri uang Ayah?" suara Ayah yang keras dan penuh emosi. Namun Aku terdiam dan takut untuk berbicara, karena tak satu pun dari kami berdua mau berbicara akhirnya ayah berkata "Baik! karena kalian tidak ada yang mau mengaku maka kalian berdua harus dihukum!" Tiba-tiba Kakak menggenggam tangan ayah dan berkata "Ayah, Akulah yang telah mencuri uang ayah" Dia melakukan hal itu hanya demi Aku. Ditengah malam Aku menangis, namun kakakku mengusap air mataku dan berkata "Adik jangan menangis lagi, semua telah terjadi" Saat itulah Aku tidak akan melupakan ekspresi kakak saat melindungi Aku. Tahun itu Aku berusia 8 tahun dan kakakku berusia 11 tahun, tetapi kejadian itu tak bisa aku lupa.

Ketika Aku diterima di sekolah Menengah Atas Negeri, pada saat yang sama kakakku diterima juga untuk masuk di universitas negeri ternama. Malam itu saat ayah duduk di halaman rumah, Aku mendengar pembicaraan ayah dan Ibu "Ibu Anak-anak kita memiliki hasil yang sangat baik" ucap ayah. Dan pada saat itu Ibu langsung mengeluarkan air mata dan berkata "Tapi apa gunanya, tak mungkin kita bisa membiayai keduanya?" Suara ibu dengan serak tangis. Pada saat itu juga kakakku berjalan keluar dan berdiri didepan Ayah dan ibu sambil berkata "Ayah, Aku tidak akan melanjutkan sekolah lagi, Aku sudah lulus SMA, dan Aku hanya ingin bekerja". Tapi sepertinya Ayah terlihat marah dan berkata "Mengapa kamu mempunyai sikap lemah, Ayah akan membiayai kalian berdua meski harus mengemis di jalanan" dan kemudian Ayah langsung pergi untuk meminjam uang ke rumah saudara dan tetangga. lalu Aku pun datang dan menyentuh lembut wajah kakakku dan aku berkata padanya "Anak laki-laki harus melanjutkan sekolahnya. jika tidak, kakak tidak akan mampu mengatasi kemiskinan yang kita alami" Ujar Aku dengan tangis. Di sisi lain, Aku telah memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah di SMA Negeri.

Tak ada yang tahu pada hari berikutnya sebelum subuh, kakakku meninggalkan rumah dengan meninggalkan catatan di bantal "Dik, masuk ke SMA negeri tidaklah mudah. Dengan ijazah SMA ini kakak akan pergi mencari kerja dan kakak akan mengirimkan uang untuk kamu" Aku pun memegang erat kertas tersebut diatas tempat tidurku sambil menangis hingga tertidur.

Dengan uang yang diperoleh ayah dengan cara meminjam ke saudara dan tetangga juga dari uang kakakku yang dihasilkan dari bekerja sebagai pengangkut semen. Akhirnya Aku lulus dan bisa masuk ke Universitas Negeri yang dulu kakakku inginkan. Tahun itu Aku berusia 19 tahun dan kakakku berusia 22 tahun.

Suatu hari Aku sedang belajar di kamar kost, lalu temanku datang dan memberitahukan "ada seorang seperti pengemis sedang mencari kamu diluar sana" Mengapa ada seorang pengemis mencari Aku? karena penasaran Aku pun keluar, dan nampak dari jauh terlihat seseorang yang disekujur tubuhya ditutupi semen dan kotoran debu yang ternyata dia adalah kakakku. "Aku pun bertanya Mengapa kamu tidak bilang pada temanku bahwa kamu adalah kakakku?" Dia menjawab sambil tersenyum "lihat bagaimana penampilanku, apa yang akan mereka pikir kalau kamu adalah adikku? apakah mereka tidak menertawakanmu?"

Aku merasa sangat tersentuh , dan air mata memenuhi mataku . Aku menyapu kotoran dan debu dari tubuh kakakku. Dan Aku berkata padanya dengan suara serak , " Aku tidak peduli apa yang orang akan katakan ! Kamu adalah kakakku apa pun penampilan kamu"Dari Tasnya , ia mengeluarkan sebuah laptop . Dia memberikannya padaku dan berkata , "kakak  melihat semua orang yang kuliah di Universitas ini memakainya . Aku pikir kamu juga harus memiliki satu" Aku tidak bisa menahan diriku lagi . Aku menarik kakakku ke dalam pelukanku dan menangis . Aku tahu harga laptop itu sangat mahal, dan ia rela menghemat biaya hidupnya hanya untuk Aku. Tahun itu , aku berusia 20 tahun , kakakku berusia 23 tahun.

***

Setelah Aku menikah, Aku tinggal di kota. suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak mau. Mereka mengatakan bila mereka meninggalkan desa, mereka tidak akan tahu apa yang harus dilakukan dikota. kakakku tidak setuju denganku. Dia berkata , "Dik, Kamu mengurus suami dan mertuamu saja. Aku akan mengurus Ibu dan Ayah di sini"


Suamiku baru saja diangkat menjadi direktur diperusahaannya. Kami meminta kakakku untuk mau menerima tawaran menjadi manajer pada departemen pemeliharaan. Tapi kakak menolak tawaran itu . Dia bersikeras bekerja sebagai tukang pengangkut semen.Suatu hari , kakakku tertimpa tumpukkan semen sangat banyak, lukanya
cukup parah sehingga harus dikirim ke rumah sakit . Suamiku dan Aku mengunjungi dia di rumah sakit . Melihat luka di sekujur tubuhnya, Aku menggerutu , "Kenapa kamu menolak tawaran menjadi manajer? Manajer tidak akan melakukan sesuatu yang berat seperti itu . Sekarang lihat diri kamu, kamu  menderita cedera serius . Kenapa kamu tidak mendengarkan kami!? "Dengan ekspresi serius di wajahnya , ia membela keputusannya , " Aku memikirkan Adik iparku, ia baru saja di angkat jadi direktur . Kalau saya, yang tidak berpendidikan akan menjadi manajer , berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku pun dipenuhi air mata, dan kemudian Aku berkata , "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku! " Dan kakakku hanya menjawab "Mengapa Kamu berbicara tentang masa lalu ? " Sambil kemudian dia memegang tanganku. Tahun itu , ia berusia 29 tahun dan Aku berusia 26 tahun. Dan beberapa hari dirumah sakit akhirnya kakakku meninggal. selama sebulan, hampir setiap hari aku menangisinya.

Kini Aku berada di puncak kejayaanku. Dalam sebuah acara seminar, pembawa acara bertanya padaku " Siapakah orang yang Anda hormati dan kasihi ?"Bahkan tanpa mengambil waktu untuk berpikir , Aku menjawab, "Kakakku" Aku melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang selalu kuingat . " Ketika saya masih di sekolah dasar, sekolah itu letaknya di sebuah desa yang berbeda. Setiap hari , saya dan kakak saya berjalan selama 2 jam ke sekolah juga kembali ke rumah. Suatu hari , Saya kehilangan satu dari sepatuku . Kakakku memberiku sepatu miliknya. Dia hanya mengenakan satu sepatu milikku dan dia harus berjalan jauh . Ketika kami tiba di rumah, kakinya begitu gemetaran karena menahan kesakitan. Sejak hari itu , aku bersumpah bahwa selama saya hidup, saya akan ingat kakakku dan akan selalu baik kepadanya, dialah yang telah menjadikanku sukses seperti ini. Tapi kini, kakakku telah tiada" Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu mengalihkan perhatian mereka kepadaku. Aku merasa sulit untuk berbicara tapi aku lanjutkan, "Dalam seluruh hidup saya , yang saya ingin hanya mengucapkan terima kasih yang paling dalam untuk kakak Saya" dengan suara serak di depan kerumunan, tak terasa air mata bergulir di wajahku lagi.

kasih sayang ayah

Kasih Sayang Seorang Ayah


Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab : “Sebab aku Laki-laki.” Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : “Aku tidak mengerti.” Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki.” Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : “Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?”
Ibunya menjawab : “Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu jawaban sang Ibu.
Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.
“Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi.”
“Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”
“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya.”
“Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya.”
“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya.”
“Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara.”
“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya.”
“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”
“Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat.”
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdzikir, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya.
“Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah.”
Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

By :
Free Blog Templates